Hari 4 — Tetap Berbuat Baik di Tengah Luka
Amsal 25 : 21
“Jika seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jika ia dahaga, berilah dia minum air.”
Ayat ini terasa tidak masuk akal secara manusia.
Bagaimana mungkin kita berbuat baik kepada orang yang menyakiti kita?
Namun justru di situlah letak keunikan hidup orang percaya.
Kita dipanggil untuk berbeda. Bukan mengikuti pola dunia, tetapi mengikuti hati Tuhan.
Berbuat baik kepada musuh bukan berarti kita setuju dengan perbuatannya.
Tetapi kita memilih untuk tidak dikuasai kebencian. Kita mengambil langkah yang lebih tinggi.
Ini bukan hal mudah, tetapi sangat mungkin dengan pertolongan Tuhan.
Saat kita tetap berbuat baik, kita sedang menjaga kualitas diri.
Kita tidak membiarkan orang lain menentukan karakter kita.
Kita tetap menjadi pribadi yang benar.
Bukan karena orang lain layak, tetapi karena Tuhan mengajarkan demikian.
Dan sering kali, kebaikan yang tidak terduga justru menyentuh hati. Mengubah keadaan.
Atau setidaknya, menjaga hati kita tetap benar.
Mari, lakukan satu tindakan kebaikan kepada orang yang sulit kita hadapi!
Pertanyaan reflektif : Apakah aku bersedia tetap berbuat baik kepada orang yang menyakitiku?
Versi Audio
