Seri “Mujizat Tuhan”
Yohanes 6 : 11
“Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.”
Kisah lima roti dan dua ikan adalah mujizat yang sangat terkenal.
Mujizat ini dimulai dari sesuatu yang sangat kecil dan tampak tidak berarti.
Seorang anak menyerahkan bekal sederhana yang secara logika tidak akan cukup untuk siapa pun.
Namun Tuhan tidak pernah menilai dari ukuran, melainkan dari kerelaan hati.
Yesus tidak mengeluh tentang kurangnya persediaan, melainkan mengucap syukur terlebih dahulu.
Ini mengajarkan bahwa ucapan syukur sering mendahului pelipatgandaan berkat.
Dalam hidup sehari-hari, kita sering menunda melayani, memberi, atau taat karena merasa apa yang kita miliki tidak cukup.
Kita menunggu kondisi ideal, keuangan stabil, waktu longgar, atau kemampuan yang sempurna.
Tuhan justru bekerja melalui ketidaksempurnaan yang diserahkan kepada-Nya.
Mari kita berhenti meremehkan apa yang ada di tangan kita saat ini.
Waktu, tenaga, perhatian, dan kasih yang sederhana bisa menjadi alat mujizat di tangan Tuhan.
Ketika kita menyerahkan yang kecil dengan iman, yang awalnya terbatas menjadi cukup, bahkan berkelimpahan.
Dan seperti Tuhan memberkati lima roti dan dua ikan menjadi kelimpahan, Dia juga rindu mencurahkan berkat-Nya atas hidup yang mau diserahkan sepenuhnya kepada kasih dan kuasa-Nya!
Versi Audio
