Hari 3: Meneladani Kerendahan Hati Kristus
Filipi 2 : 5, 8
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus… Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Konflik dalam komunitas, gereja, maupun rumah tangga orang dewasa paling sering dipicu oleh kesombongan dan keengganan untuk mengalah.
Kita sering kali merasa paling benar, paling berjasa, atau paling berhak mendapatkan penghormatan dari orang-orang di sekitar kita.
Namun, firman Tuhan memanggil kita untuk meneladani pola pikir Kristus yang radikal dalam hal kerendahan hati.
Walaupun Dia adalah Allah, Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan secara egois.
Dia rela mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan taat melayani manusia hingga mengorbankan nyawa-Nya di atas kayu salib.
Kerendahan hati yang sejati bukanlah merasa diri rendah atau tidak berharga, melainkan memikirkan diri sendiri secara lebih sedikit dan mengutamakan kepentingan sesama.
Ketika kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus, kita tidak akan gampang tersinggung atau selalu menuntut hak pribadi kita dalam relasi.
Kita belajar merendahkan hati untuk meminta maaf terlebih dahulu dan bersedia mengampuni kesalahan orang lain dengan tulus.
Kerendahan hati adalah kunci utama untuk menciptakan kedamaian dan keharmonisan yang bertahan lama di dalam jemaat!
Pertanyaan Reflektif: Dalam relasi manakah saat ini kita paling sulit untuk merendahkan hati dan mengesampingkan ego pribadi demi mengusahakan kedamaian?
Versi Audio
