Hari 4: Meruntuhkan Tembok Pemisah dalam Komunitas
Efesus 2 : 14
“Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah menyatukan kedua pihak dan yang telah meruntuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.”
Dalam dunia yang penuh dengan kubu, prasangka, dan perbedaan status, gereja seharusnya menjadi tempat berlindung yang penuh persatuan.
Kristus telah meruntuhkan tembok pemisah antara berbagai suku, budaya, dan latar belakang sosial melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.
Sebagai bagian dari tubuh Kristus, kita tidak lagi dibenarkan untuk memelihara prasangka buruk, eksklusivitas, atau sikap diskriminatif.
Sering kali tanpa sadar kita membangun tembok pemisah baru di dalam jemaat berdasarkan tingkat ekonomi, pendidikan, atau perbedaan pandangan.
Padahal, di hadapan salib Kristus, kedudukan kita semua adalah sama: orang-orang berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia.
Kerukunan dalam jemaat menciptakan kesaksian yang sangat kuat dan memikat bagi dunia yang terluka dan terpecah belah ini.
Ketika ada perbedaan pendapat atau konflik di antara kita, Kristus memanggil kita untuk mengutamakan perdamaian dan kerendahan hati.
Kita perlu belajar mendengarkan dengan penuh empati, memahami sudut pandang orang lain, serta bersedia mengalah demi kebaikan bersama.
Damai sejahtera Kristus harus memerintah dalam hati dan mengatur setiap interaksi kita dengan sesama anggota jemaat.
Jangan biarkan benih kepahitan atau gosip merusak persekutuan indah yang telah dibangun oleh darah Yesus.
Mari kita aktif menjalin persahabatan dengan mereka yang berbeda dari kita dan merangkul semua orang dalam kasih-Nya!
Pertanyaan Reflektif: Tembok prasangka atau batasan sosial apakah yang masih sering kita bangun dalam pikiran kita terhadap anggota jemaat yang berbeda latar belakang?
Versi Audio
