Hari 2: Berhenti Mengkritik dan Mulai Membenahi Diri
Roma 2 : 1a
“Oleh karena itu, hai manusia, siapa pun engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah.”
Salah satu kecenderungan orang dewasa adalah sangat cepat menilai dan mengkritik kesalahan orang lain, tetapi sangat lambat menyadari kekurangan diri sendiri.
Kita sering menggunakan standar moral yang tinggi untuk menilai tindakan tetangga, rekan kerja, atau sesama jemaat, sambil memaklumi kesalahan kita sendiri.
Paulus mengingatkan bahwa kebiasaan menghakimi ini adalah bentuk kesombongan rohani yang sangat berbahaya dan menyesatkan.
Tuhan memanggil kita bukan untuk menjadi hakim atas hidup sesama, melainkan untuk menjadi pribadi yang terus-menerus bertobat dan diperbaiki.
Ketika kita sibuk mencari celah kelemahan orang lain, energi jiwa kita habis dan kita kehilangan fokus untuk bertumbuh secara pribadi.
Setiap kali kita merasa ingin mengkritik kegagalan orang lain, ingatlah berapa banyak kemurahan dan pengampunan Tuhan yang telah kita terima.
Kasih yang sejati selalu mendorong kita untuk merangkul dan membantu, bukan menjatuhkan atau menceritakan keburukan sesama kepada orang lain.
Mengubah fokus dari menilai orang lain menjadi mengevaluasi diri adalah langkah kedewasaan rohani yang sangat membebaskan.
Kebijaksanaan hidup dimulai saat kita menyadari bahwa kita pun membutuhkan anugerah Tuhan setiap hari untuk dapat hidup benar!
Pertanyaan Reflektif: Apakah Anda lebih sering menggunakan standar firman Tuhan untuk menilai orang lain atau untuk menguji kehendak dan hati Anda sendiri?
Versi Audio
