Hari 7: Merobohkan Tembok Tembok Sekat dalam Bermasyarakat
Kisah Para Rasul 10 : 34
“Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ‘Sesungguhnya aku telah tahu, bahwa Allah tidak membedakan orang.'”
Perbedaan suku, latar belakang ekonomi, pandangan politik, dan budaya sering kali menjadi pemicu perpecahan di kalangan orang dewasa.
Petrus harus mengalahkan tradisi dan budaya Yahudi yang kaku agar bisa melangkah masuk ke rumah Kornelius yang non-Yahudi.
Kasih Allah dirancang untuk merangkul semua orang tanpa memandang perbedaan lahiriah yang sering dijadikan sekat oleh dunia.
Kasih Kristus yang sejati akan selalu mendorong kita untuk keluar dari zona nyaman dan merobohkan tembok prasangka.
Kebenaran Injil memanggil kita untuk memperlakukan setiap manusia dengan martabat, rasa hormat, dan keadilan yang sama.
Jangan biarkan eksklusivitas atau rasa superioritas rohani membuat Anda menjadi dingin terhadap masyarakat di luar gereja Anda.
Komunitas Kristiani yang berdampak adalah komunitas yang hadir membawa kehangatan dan kedamaian bagi sekitarnya.
Ketika kita mau membuka diri untuk berteman dengan siapa saja, kita sedang memantulkan karakter Allah yang tidak membeda-bedakan.
Jadilah jembatan yang menghubungkan kasih Kristus dengan orang-orang yang selama ini terpinggirkan dari masyarakat!
Pertanyaan Reflektif: Tembok prasangka apa yang masih tanpa sadar Anda bangun terhadap kelompok atau orang tertentu di sekitar Anda?
Versi Audio
