Hati-hati Menilai

Hari 2 — Hati-Hati Memberi Penilaian atas Penderitaan Orang Lain

Ayub 3 : 17

“Sudikah kamu berbohong untuk Allah, sudikah kamu mengucapkan dusta untuk Dia?”

Sahabat-sahabat Ayub datang dengan niat menghibur.

Namun mereka berubah menjadi penuduh.

Mereka merasa tahu alasan penderitaan Ayub. Mereka yakin Ayub pasti menyembunyikan dosa besar.

Padahal mereka tidak mengetahui seluruh kenyataannya.

Sering kali kita melakukan hal yang sama. Kita terlalu cepat menyimpulkan kehidupan orang lain.

Kita menganggap semua kesulitan pasti akibat kesalahan pribadi, padahal tidak selalu demikian.

Hanya Tuhan yang mengetahui seluruh cerita hidup seseorang.

Tugas kita bukan menjadi hakim. Tugas kita adalah menjadi sahabat yang menguatkan.

Orang yang sedang terluka lebih membutuhkan kehadiran daripada ceramah panjang.

Kadang satu pelukan lebih bermakna daripada seribu penjelasan.

Belajarlah mendengar sebelum berbicara. Belajarlah memahami sebelum menilai.

Kasih selalu lebih dahulu hadir daripada penghakiman.

Tuhan memanggil kita menjadi pembawa penghiburan, bukan penambah beban.

Mulailah melihat sesama dengan belas kasihan, bukan dengan prasangka.

Jadilah pribadi yang menghibur, bukan yang mudah menghakimi orang lain!a

Pertanyaan Reflektif : Apakah saya lebih sering menghibur orang yang terluka atau justru menghakiminya?

Versi Audio

    Leave a Reply