Seri “Tidak Putus Asa”
Ratapan 3 : 29
“Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan.”
Kitab Ratapan ditulis dalam situasi yang sangat menyedihkan.
Yerusalem hancur, bangsa itu kehilangan banyak hal, dan masa depan tampak gelap.
Namun di tengah kesedihan itu muncul satu kalimat kecil: “Mungkin ada harapan.”
Kata “mungkin” di sini bukan tanda keraguan kepada Tuhan, tetapi pengakuan bahwa harapan masih ada meskipun keadaan terlihat sangat buruk.
Dalam hidup kita juga ada masa ketika segala sesuatu terasa runtuh.
Usaha tidak berjalan seperti rencana. Hubungan yang kita jaga lama tiba-tiba retak. Doa yang kita panjatkan terasa belum dijawab.
Dalam situasi seperti itu, sangat mudah bagi hati untuk menyerah.
Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa selama Tuhan masih bekerja, harapan tidak pernah benar-benar hilang.
Bahkan ketika kita merasa sangat rendah, seperti “muka dalam debu”, Tuhan masih melihat kita.
Kerendahan hati sering menjadi awal pemulihan.
Saat kita berhenti mengandalkan kekuatan sendiri, kita mulai melihat pertolongan Tuhan.
Ia sanggup mengangkat orang yang paling terpuruk sekalipun.
Karena itu jangan terburu-buru menyimpulkan akhir cerita.
Tuhan masih menulis bagian selanjutnya dari hidup kita.
Di tengah kehancuran sekalipun, Tuhan masih membuka kemungkinan baru.
Selama kita tetap berharap kepada-Nya, pintu pemulihan tetap terbuka!
Versi Audio
