Seri “Mengelola Kemarahan”
Yeremia 15 : 17
“Karena tekanan tangan-Mu aku duduk sendirian, sebab Engkau telah memenuhi aku dengan geram.”
Nabi Yeremia jarang dijadikan contoh dalam pembahasan emosi, tetapi ia sangat jujur tentang pergumulannya.
Ia tidak menyembunyikan geramnya di hadapan Tuhan.
Ia tidak berpura-pura kuat. Ia mengakui bahwa hatinya penuh gejolak.
Ini penting.
Banyak orang Kristen merasa bersalah ketika marah.
Mereka menekan emosi dan berpura-pura baik-baik saja. Padahal emosi yang ditekan bisa berubah menjadi kepahitan.
Yeremia menunjukkan bahwa tempat pertama untuk membawa amarah adalah hadapan Tuhan.
Bukan media sosial. Bukan gosip. Bukan pelampiasan kepada orang yang salah.
Ia memilih duduk sendirian di hadapan Tuhan.
Kesendirian yang penuh doa lebih sehat daripada keramaian yang penuh pelampiasan.
Tuhan tidak menolak doa yang jujur. Ia lebih menghargai kejujuran daripada kemunafikan rohani.
Saat kita datang kepada Tuhan dengan marah, Roh Kudus perlahan melembutkan hati.
Doa memberi ruang bagi Tuhan untuk mengoreksi sudut pandang kita.
Bisa jadi kita marah karena harapan kita tidak terpenuhi. Bisa jadi kita terluka karena merasa tidak dihargai.
Dalam doa, Tuhan menyingkap akar sebenarnya.
Mengelola amarah berarti membawa emosi itu kepada Tuhan terlebih dahulu.
Jadikan doa sebagai ruang pemulihan hati dan jiwa kita yang utama!
Versi Audio
